Share the Alumni views to the Alumni

SIGN UP

Adanya Suku Laut sebagai bukti bahwa Keeksistensian Manusia adalah Abadi?


Salah satu kebanggan bangsa Indonesia adalah sejarah tentang Bangsa Indonesia dan wilayah Indonesia yang dikelilingi oleh laut ( samudera Hindia dan Samudera Pasifik). Cerita mengenai Onrust Memorial Park , sepertinya masih banyak yang tahu. Bagaimana dan apakah Onrust itu ? (di baca : termasuk saya) . Sejarah dan cerita cerita dari Pulan Onrust sendiri cukup membuat kita menyadari bahwa kaya-nya Indonesia dari 17.504 pulau yang ada ( sumber : wikipedia 2017) dengan cerita cerita masyarakat setempat. Tentunya kisah tersebut hadir bukan sekedar dongeng atau kisah pengantar tidur. Namun adalah pesan pesan yang diwariskan dari leluhur nenek kakek moyang mereka terdahulu. Penyampaian sudah pasti tidak bisa tersuarakan 100 persen. Akan ada hal yang 0.05 % tambah dan terkurangi karena faktor ketidaksengajaan kala itu. Menariknya, cerita tersebut menjadi sebuah kebudayaan dan kebanggaan dari orang orang yang tinggal di daerah tersebut. Untuk kisah Suku Laut pun tidak kalah menariknya. Tidak dapat saya coba bayangkan bahwa di dalam kehidupan hari hari saya, saya harus tinggal di dalam sebuah perahu di kelilingi laut yang super luas and indefinite. Bagaimana rasanya terasing dari orang orang yang ada di darat ? ( dibaca : ini hanya dalam gambaran otak saya saja). Bagaimana kalau ingin merasakan berjalan di atas tanah dan berlari di atas deretan pepohonan? Apakah mungkin ikan ikan dan teman sejenisnya yang mereka temui di setiap saat menjadi sesosok yang lebih populer dibandingkan dengan SUJU dan BLACKPINK yang sedang mendunia? Apakah suatu hari nanti mereka dapat menjadi "manusia ikan" , dimana akan bertemu dengan siluman ikan dan kemudian mempunyai lanjutan kisah seperti yang ada di film film ? ( dibaca : tolong yang ini di baca sepintas lompat -lompat saja karena isinya ngaco tanpa dasar dan arah). Tidak paham dan belum mengerti kehidupan SUKU LAUT 's tentunya makanya saya bercuap-cuap tanpa nahkoda. Read more

Architecture and Scarcity #04


Nabilah Ainurrahmah : "Decomposing Kota Tua"
Arsitektur yang kami bangun saat ini berperan besar dalam membentuk persepsi superioritas karena mengurangi interaksi langsung antara manusia dan alam. Cendawan sebagai organisme pengurai berpotensi menimbulkan persepsi baru tentang arsitektur, yaitu arsitektur sebagai pengurai. Dalam konteks Kota Tua Jakarta, proyek ini berupaya memadukan dialog antara jamur dan manusia dalam suatu ruang arsitektural, sehingga manusia dapat terhubung kembali dengan alam.
Jamur dari genus Fusarium mampu menguraikan beton menjadi bahan organik. Melalui proses ini, proses restorasi alami dapat membantu mempertahankan ekologi yang ada karena siklus energi yang berulang.
Zelika Razna : "Expediting The Softscape Nature Takes Over Architecture"
Dalam keadaan terbengkalai saat ini, situs dan bangunan ditinggalkan dengan elemen hardscape yang digunakan proyek sebagai alat bagi spesies non-manusia untuk menjadi konspirator arsitektur untuk secara berturut-turut membawa arsitektur kembali ke alam. Saat kita tumbuh lebih besar, kelimpahan hardscape ini menjadi limbah anorganik yang ditinggalkan, menciptakan kelangkaan softscape. Menanggapi topik Scarcity of Softscape, proyek ini membayangkan intervensi yang dilakukan terhadap kompleks ruko yang telah ditinggalkan di Bintaro, pinggiran Jakarta Selatan, dengan tujuan untuk membantu proses pengambilalihan secara alami di situs yang ditinggalkan.

Read more