SIGN UP

Waktu muda pengennya kuliah di Asri Jogya, sayang ndak disupport. Katanya lu seniman mau jadi apa. Apa bole buat kepaksa nyemplung kearsitek.

Diarsitektur ada pelajaran menggambar sayangnya tidak begitu tuntas hanya belajar sebatas kulit. Dulu tanpa Internet referensi utk belajar menggambar terbatas. Sekarang bagi yg minat ada sederet pakar pakar artist mulai Jung Gi Kim, Proco, Dan Beardshaw dll.

Satu hal positip akibat Covid-19, ada waktu luang untuk belajar.

Charcoal atau cat minyak itu ribet terlampau banyak cengkunek yg perlu dipersiapkan. Lagipula butuh waktu tidak bisa disambi sembari mencari nafkah. Pilihan jatuh ke Digital Art, media yg ternyata menarik untuk diekplorasi.

Yang menarik, Art itu matematik dan matematik itu art. Ide ini yang jarang diajarkan dibangku kuliah. Dikuliah sebentar memang diajarkan matematika, selain menggambar. Tapi tanpa jembatan yang menghubungkan kedua ilmu tersebut.

Selain itu, yang diajarkan dalam menggambar lebih kepada meniru menggambar obyek. Itu perlu untuk melatih skill. Tapi Art itu bukanlah skill semata. Kita butuh belajar menghayal dan berimaginasi, merasakan dan mengekspresikan diri. Ini dasar Art.

Disini Jung Gi Kim (JG) artist asal Korea ini menarik untuk disimak. JG punya metoda yang agak berbeda dengan metode barat yang umum menjadi acuan dalam belajar menggambar.

JG tidak berangkat dari proposi matematik bentuk, tapi berangkat dari berhayal, mengingat dalam memori terhadap suatu obyek maupun ruang. Dikepalanya tidak dimulai dari garis planar, melainkan perspektif ruang yg utuh dengan daya imaginasi dari mana mata melihat. Baru dalam implementasinya ilmu proporsi menjadi bagian dari ekspresi yg tumbuh dari ide dimemori.

Hasilnya memang luar biasa.

Metode JG maupun metode barat, keduanya saling melengkapi.

Itu perlunya sejak dini, dunia pendidikan sebaiknya memadukan art dan matematika secara berkelanjutan. Untuk itu diperlukan latihan berhayal, berimaginasi dan merasakan ruang. Tidak terpaku kepada obyek yang dilihat.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Mari belajar menggambar, dimulai dari berhayal secara liar, membangun imaginasi mengenal indera pengingat.

Berhayal itu nikmat, imaginasi itu lautan tanpa batas.

Tabik,
Monchu
Melbourne, 1 June 2020

More posts

Post a comment