Praktisi bangunan dan penantian kehadiran sang buah hati

SIGN UP

Mengkaji dan mengkaji berbagai metode pendidikan anak yang sudah dilakukan penelitiannya oleh para ahli, adalah kegiatan yang cukup intens saya lakukan di sela-sela krgiatan utama saya, bahkan sebelum mengandung anak pertama.

Bahkan hingga detik tulisan ini dibuat, saya masih terus melakukan pencarian metode terbaik yang akan saya terapkan pada anak saya sembari mempraktikkan ilmu yang saya pahami sekaligus trial, error, fix & emphasize. Saya sangat berharap rekan orangtua yang memiliki metode yang efektif dan sudah teruji pada anak-anaknya untuk memberikan masukan maupun saran atas tulisan ini.

Sebagaimana saya sebutkan di artikel sebelumnya. Saya menggunakan beberapa referensi literatur didalam mempertimbangkan metode yang hendak saya pilih. Adapun ilmu apa yang hendak saya berikan kepadanya, sedikit banyak sudah tercipta gambarannya didalam kepala saya berdasarkan ilmu yang saya peroleh sebelumnya maupun proses pengalaman menjadi anak kecil hingga dewasa.

Kelak saya memulai hubungan dengan anak saya, dengan dasar pemikiran bahwa anak saya adalah individu baru yang terpisah dari diri saya. Dimana ia memiliki kecenderungan maupun kelebihan dan kekurangan yang wajib saya hargai. Pastinya ia juga akan memiliki kemungkinan kecocokan maupun ketidakcocokan terhadap metode tertentu, untuk pola pendidikannya. Tentu saja hal ini akan saya temukan seiring dengan perkembangan dan pertambahan usianya.

Untuk bisa menemukan metode pendidikan yang cocok dengan anak, saya memahami bahwa setiap anak membutuhkan kasih sayang dan rasa percaya terhadap orangtuanya, bahwa mereka (orangtuanya) tidak akan menyakiti hati ataupun fisikya. Hal ini didasari karena saya percaya, bahwa parenting sebagaimana perancangan dan pelaksanaan bangunan, mengandung hukum kausalitas didalam prosesnya.

Alhamdulillah hingga detik ini kami masih diberi ke-istiqomah-an untuk tidak pernah memaki ataupun mencacinya, apalagi menyakiti fisiknya. Dan hingga kini kami menjalani hari-hari dengan anak kami dengan tindakan berpelukan yang cukup sering, dan curahan kata-kata serta perbuatan kasih sayang yang alhamdulillah masih rutin kami terapkan disela-sela aktivitas kesibukan masing-masing. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari pengalaman hidup dan nilai-nilai yang kami pegang.

Saya pribadi pernah mengalami situasi didalam fase hidup saya, dimana ketidak-percayaan diri, kemarahan, dan kekalutan menjadi bagian dari diri saya. Alhamdulillah, melalui perenungan dalam jangka waktu yang cukup panjang dan dalam, saya menyadari bahwa sebagian hal itu terjadi oleh sebab dua hal. Sebagian karena pribadi saya sendiri dan sebagian lagi karena hubungan saya dengan orang-orang terdekat saya. Kesadaran adanya sifat-sifat yang kurang baik tersebut menuntun saya untuk berkontemplasi mencari jalan demi memaafkan penyebab-penyebabnya dan untuk dapat bisa lebih berdamai dengan diri sendiri.

Melalui perenungan tersebut juga, saya berusaha memperbaiki pola pikir saya ke arah yang lebih baik, khususnya dari kacamata ideologi yang saya yakini. Tentu saja proses ini tidak saya dapatkan secara instant seiring dengan perenungan yang saya lakukan. Namun dengan cara terus melakukan feedback terhadap diri, mencari, dan menggali tanpa lelah, nilai-nilai yang terbaik untuk falsafah hidup dan tujuan / visi hidup yang jauh kedepannya.

Alhamdulillah, melalui kasih sayang Allah subhaanahuwata'ala, saya merasa mendapatkan banyak tuntunan dalam kehidupan saya. Terutama didalam mengetahui nilai-nilai hukum kehidupan yang benar-benar saya butuhkan. Ada saja kejadian, berupa ilmu dalam bentuk konkrit, maupun pengalaman yang memberikan hikmah dari terjadinya kejadian-kejadian di kehidupan saya maupun pada kehidupan orang-orang terdekat.

Kesemua nilai-nilai tersebut menjadi landasan prinsip yang saya pegang, untuk diterapkan dalam kehidupan saya dan sebagai metode parenting saya kelak, sembari menanti kehadiran sang buah hati. Dan yang terutama sebagai landasan didalam proses berdamai dengan kehidupan dan diri sendiri.

Berdamai dengan kehidupan dan diri sendiri sebelum melaksanakan proses parenting yang positif adalah sebagaimana pembersihan dan pengkondisian lahan sebelum membangun sebuah bangunan. Merupakan titik tolak yang krusial bagi setiap orangtua dan juga calon orangtua. Sebuah titik tolak yang tidak terlepas dari cita-cita semua orangtua, yaitu untuk memiliki anak yang baik, bersih hatinya, cerdas, sukses dunia & juga sukses akhirat.

Bersambung di artikel selanjutnya. :)

More posts

Post a comment